Kajian Rutin Majelis Ar-Rohimin: Saat Tangan dan Kaki Menjadi Saksi Amal Manusia

NARASIBANGSA.ID, SURABAYA – Kajian rutin Kitab Bidayatul Hidayah kembali digelar Majelis Ar-Rohimin pada Rabu (8/7/2026) malam di Gedung Majelis Ar-Rohimin, Tambak Dalam Baru 1B, Asemrowo, Surabaya.

Pengajian yang diasuh Habib Mustofa bin Zein Al-Alydrus itu mengangkat pembahasan mengenai kesaksian anggota tubuh manusia pada Hari Kiamat sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan dipaparkan oleh Imam Al-Ghazali dalam Kitab Bidayatul Hidayah.

Dalam penyampaiannya, Habib Mustofa memulai kajian dengan mengutip firman Allah dalam Surah Yasin ayat 65:

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, lalu tangan mereka berbicara kepada Kami dan kaki mereka menjadi saksi atas apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Ayat tersebut menjadi penegasan bahwa pada Hari Pembalasan setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh amal perbuatannya.

Tidak ada ruang bagi kebohongan ataupun pengingkaran, sebab Allah menghadirkan anggota tubuh sebagai saksi yang tidak mungkin berdusta.

Merujuk pada penjelasan dalam Kitab Bidayatul Hidayah, Habib Mustofa menerangkan bahwa mulut orang-orang kafir maupun para pendosa akan ditutup sehingga mereka tidak mampu mengelak dari dosa-dosa yang pernah dilakukan.

Sebaliknya, tangan, kaki, serta anggota tubuh lainnya akan memberikan kesaksian atas seluruh perbuatan yang dikerjakan selama hidup di dunia.

Kesaksian tersebut menjadi manifestasi keadilan Allah yang sempurna. Setiap amal, sekecil apa pun, akan diperlihatkan secara nyata sehingga tidak ada seorang pun yang dapat membela dirinya dengan alasan ataupun kebohongan.

Dalam kajian itu juga dijelaskan bahwa para ulama mengemukakan dua pandangan dalam memahami makna ayat tersebut.

Pendapat pertama menyatakan bahwa Allah benar-benar menjadikan mulut manusia terkunci, sementara tangan dan kaki berbicara secara hakiki sebagai saksi atas seluruh amal yang pernah dilakukan.

Adapun pendapat kedua memaknai kata “berbicara” sebagai tampaknya bukti-bukti yang sangat jelas melalui anggota tubuh, sehingga seluruh perbuatan manusia menjadi terang benderang dan tidak mungkin lagi diingkari.

Kedua pandangan tersebut sama-sama menegaskan kemahakuasaan Allah dalam menyingkap seluruh catatan amal manusia.

Melalui penjelasan itu, Habib Mustofa mengingatkan bahwa setiap anggota tubuh merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Lisan, tangan, kaki, mata, telinga, hingga seluruh anggota badan hendaknya digunakan untuk menjalankan ketaatan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

Kajian ini juga menanamkan nilai muraqabah, yakni kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap ucapan, tindakan, maupun lintasan perilaku manusia.

Kesadaran tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk pribadi yang disiplin menjaga akhlak, memperbanyak amal saleh, serta tidak menunda taubat selama kesempatan masih terbuka.

Sebagai penutup, Habib Mustofa menyampaikan hikmah yang diriwayatkan para ulama:

“Man hasaba nafsahu fid-dunya khaffa hisabuhu fil akhirah.”

Artinya, “Barang siapa menghisab dirinya di dunia, maka akan ringan hisabnya di akhirat.”

Pesan tersebut menjadi ajakan bagi setiap Muslim untuk senantiasa melakukan introspeksi, memperbaiki diri, dan menjadikan seluruh anggota tubuh sebagai sarana meraih ridha Allah, sehingga kelak yang menjadi saksi di hadapan-Nya adalah amal-amal kebaikan yang telah dikerjakan selama kehidupan di dunia.

Sementara, saat yang sama, Pembina Majelis Ar-Rohimin, H. Abdul Rohim, mengajak masyarakat agar waspada terhadap isu-isu negatif di dunia maya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *