BBM Langka, Aktivitas Warga Bali Lumpuh

NARASIBANGSA.ID, DENPASAR, BALI – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali mengganggu aktivitas masyarakat. Warga mengeluhkan antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), bahkan hingga berjam-jam, tanpa kepastian mendapatkan bahan bakar.

Kondisi ini tidak hanya dirasakan pengguna Pertalite, tetapi juga mereka yang membutuhkan Pertamax.

Dampak kelangkaan BBM mulai dirasakan dalam berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari pekerjaan hingga pendidikan. Warga terpaksa membatasi mobilitas karena kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk menunjang kegiatan mereka.

Atit, warga Dalung, Denpasar, Bali, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut turut memengaruhi aktivitas keluarganya. Suaminya yang merupakan pegawai negeri sipil (PNS) di sektor pelayanan publik kini bekerja dari rumah atau work from home (WFH).

“Mau jalan bagaimana, minyak gak ada, udah antre dari jam 5 subuh pagi masih tidak kebagian,” ujar Atit.

Ia mengaku telah mengantre sejak pukul 05.00 WITA, tetapi tetap tidak mendapatkan BBM. Kondisi ini membuat warga harus menghabiskan waktu dan tenaga hanya untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar.

Keluhan serupa disampaikan Wayan, warga asli Buleleng yang kini tinggal di kawasan Gatot Subroto (Gatsu), Bali. Menurutnya, kelangkaan BBM juga berdampak pada aktivitas pendidikan anaknya yang duduk di bangku sekolah menengah kejuruan (SMK).

“Anak saya SMK libur hari ini, bli,” tutur Wayan singkat.

Selain berdampak pada keluarga, Wayan yang berprofesi sebagai pengemudi ojek daring Grab mengaku tidak bisa bekerja seperti biasanya. Sebagai pekerja yang mengandalkan kendaraan bermotor untuk mencari penghasilan, ketersediaan BBM menjadi faktor penting dalam menunjang aktivitasnya.

Wayan mengatakan, antrean panjang tidak selalu sebanding dengan jumlah BBM yang akhirnya bisa diperoleh.

“Misal kita antre nih 6 jam sampai 7 jam, ketika dapat belinya minyak juga dibatasi hanya Rp30 ribu,” tuturnya.

Pengalaman tersebut menggambarkan kesulitan yang dihadapi warga ketika harus mengantre selama enam hingga tujuh jam, sementara pembelian BBM dibatasi hingga Rp30.000, menurut penuturannya.

Menanggapi kondisi pasokan BBM, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan perusahaan terus memantau ketersediaan stok dan perkembangan konsumsi BBM di berbagai daerah.

Ia menjelaskan, penyaluran BBM ke SPBU juga dioptimalkan setelah kapal pengangkut tiba dan proses pembongkaran muatan berlangsung.

Menurut Ahad, penguatan pasokan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan BBM serta kondisi stok di setiap wilayah. Langkah tersebut diharapkan membuat distribusi lebih efektif dalam memenuhi permintaan masyarakat Bali.

Upaya optimalisasi penyaluran ini menjadi bagian dari langkah Pertamina untuk menyesuaikan pasokan dengan kebutuhan di lapangan. Namun, masyarakat yang mengalami antrean panjang masih membutuhkan kepastian mengenai ketersediaan BBM di SPBU serta kelancaran distribusinya.

Keluhan Atit dan Wayan memperlihatkan bahwa persoalan ketersediaan BBM bukan sekadar urusan pengisian bahan bakar kendaraan. Dampaknya dapat menjalar ke berbagai aspek kehidupan, termasuk pekerjaan, pendidikan, dan pendapatan masyarakat.

Bagi pekerja yang bergantung pada kendaraan, sulitnya mendapatkan BBM dapat menghambat mobilitas. Sementara itu, bagi pengemudi transportasi daring, waktu yang terbuang untuk mengantre berpotensi mengurangi jam produktif dan pendapatan harian.

Di sisi lain, Pertamina menyatakan terus memantau stok dan mengoptimalkan penyaluran BBM dengan mempertimbangkan kebutuhan masing-masing wilayah. Efektivitas langkah tersebut akan menjadi perhatian masyarakat yang berharap pasokan kembali tersedia secara memadai.

Masyarakat pun berharap distribusi BBM segera berjalan lancar sehingga antrean panjang dapat berkurang dan aktivitas sehari-hari kembali normal.

Di tengah kebutuhan mobilitas yang terus berjalan, BBM menjadi salah satu penunjang utama roda kehidupan masyarakat. Ketika pasokan sulit diperoleh, dampaknya bukan hanya dirasakan pengguna kendaraan, melainkan juga pekerja, pelajar, dan berbagai kelompok masyarakat yang bergantung pada kelancaran transportasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *