NARASIBANGSA.ID, MANOKWARI SELATAN – Petani di Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, menghadapi kendala cuaca dalam proses pengeringan gabah. Penjemuran yang mengandalkan sinar matahari dapat berlangsung hingga dua minggu ketika musim hujan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan mesin pengering padi yang mampu memangkas waktu pengeringan menjadi sekitar 8–10 jam.
Ketua TEP 12 ITS, Joko Susila, mengatakan metode pascapanen konvensional membuat petani menghadapi risiko penurunan kualitas gabah akibat proses pengeringan yang terlalu lama.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi petani di kawasan transmigrasi Oransbari, yang sebagian di antaranya mengelola lahan pertanian milik pribadi seluas 1–3 hektare.
Menurut dosen Departemen Teknik Elektro ITS yang akrab disapa Jola tersebut, penjemuran gabah membutuhkan waktu sekitar lima hari ketika cuaca cerah. Namun, saat hujan atau mendung, prosesnya bisa berlangsung hingga dua minggu.
“Selama prosesnya, petani harus mengawasi gabah, menutupnya dengan terpal kalau hujan, kemudian dibuka saat cuaca cerah,” kata Jola.
Mesin pengering yang dirancang tim ITS itu ditujukan untuk membuat proses pascapanen lebih efisien dan terkendali. Selain memangkas waktu pengeringan, teknologi tepat guna tersebut diharapkan membantu petani menghemat tenaga kerja serta menjaga kualitas gabah sebelum memasuki tahap penggilingan dan penyimpanan.
Tim ITS telah melakukan pengujian awal bersama petani setempat menggunakan 36 karung gabah dengan perkiraan berat total sekitar 1,4 ton. Dalam uji coba tersebut, pengeringan menggunakan mesin hanya membutuhkan waktu sekitar 8–10 jam.
Jola mengatakan penggunaan mesin juga berpotensi mengurangi biaya tenaga kerja. Petani dapat menghemat kebutuhan tenaga kerja sebanyak dua hingga tiga orang, dengan upah sekitar Rp150.000 per hari.
Untuk menghasilkan panas yang optimal, mesin tersebut tidak hanya mengandalkan sekam padi sebagai bahan bakar. Tim ITS menerapkan pembakaran berlapis dengan menggunakan kayu bakar pada bagian bawah dan limbah gergaji agar api dapat bertahan lebih lama.
Strategi pembakaran itu disesuaikan dengan dimensi mesin yang relatif besar, yakni sekitar 3,5 x 4 meter. Pengoperasian alat juga dilengkapi instrumen pengukur kadar air untuk memastikan kelembapan gabah memenuhi standar sebelum digiling.
Pengembangan teknologi ini turut disertai upaya pemberdayaan kelompok tani. Setelah melakukan sosialisasi alat pengering, tim berencana menggelar pelatihan teknis bagi 18 orang perwakilan kelompok tani. Pelatihan tersebut akan dipusatkan di gedung Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Margorukun, Distrik Oransbari.
Tim ITS juga merancang integrasi proses produksi yang mencakup pengeringan, penggilingan gabah menjadi beras, hingga pengolahan beras menjadi tepung. Tahapan pengolahan tersebut dikembangkan bersama TEP 9 dan TEP 19 ITS.
Pengelolaan fasilitas direncanakan diserahkan kepada BUMDes dengan dukungan tim teknis lokal serta penerapan model bisnis berkelanjutan. BUMDes Margorukun dipilih karena dinilai memiliki kinerja kelembagaan yang baik dan positif.
Kemitraan tersebut juga diarahkan untuk mengatasi persoalan ketergantungan petani terhadap tengkulak atau pemodal kecil. Dalam kondisi tertentu, petani terikat rantai utang yang membuat mereka tertekan untuk menjual hasil panen dengan harga rendah kepada pihak pemberi modal.
Jola menjelaskan, melalui sistem sirkulasi hasil pertanian yang baru, BUMDes didorong menyerap dan membeli hasil panen petani.
Lembaga tersebut juga dibina agar mampu mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah sekaligus menyediakan pembiayaan modal bagi petani untuk musim tanam berikutnya.
Pengembangan teknologi tepat guna di kawasan transmigrasi ini sejalan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Program tersebut berkaitan dengan tujuan ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, tujuan ke-9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta tujuan ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
