NARASIBANGSA.ID, SURABAYA – Skoliosis pada remaja tidak selalu disertai rasa nyeri. Petubahan postur tubuh di masa pertumbuhan perlu mendapat perhatian agar kelainan tulang belakang dapat terdeteksi lebih awal.
Hal ini menjadi fokus isu Aksi Remaja Hebat (ARSHA) Spensabaya di Aula SMP Negeri 1 Surabaya, Rabu (21/10/2026).
Bertema “Hidup Sehat, Aktif dan Produktif Melalui Deteksi Dini Skoliosis”, kegiatan ini mengedukasi para siswa dan orang tua mengenai pentingnya mengenali tanda-tanda skoliosis.
Program ini juga sebagai upaya sekolah dan komite, meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan dan tumbuh kembang peserta didik.
ARSHA Spensabaya tahun ini berkolaborasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia (PABOI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), serta Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dalam rangka memperkuat pemahaman siswa dan orang tua mengenai kesehatan tulang belakang, di masa pertumbuhan.
Kepala SMP Negeri 1 Surabaya, Eko Widayani, mengatakan program edukasi tersebut merupakan kegiatan rutin tahunan yang diselenggarakan dengan mengangkat persoalan sesuai kebutuhan peserta didik.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur karena dari tahun ke tahun dapat menyelenggarakan program-program untuk anak didik kami yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Untuk tahun ini, kami menitikberatkan pada edukasi tentang deteksi dini skoliosis,” ujarnya.
Menurut Widayani, pemahaman mengenai skoliosis penting dimiliki siswa maupun orang tua agar perubahan pada tulang belakang dapat dikenali sejak awal.
Dengan demikian, anak yang menunjukkan tanda-tanda kelainan dapat menjalani pemeriksaan dan memperoleh penanganan sesuai kondisinya.
Ia berharap kegiatan ini menjadi bagian dari upaya preventif untuk mendukung kesehatan generasi muda Indonesia Emas 2045.
Ketua Komite SMPN 1 Surabaya, Siska Citra Amalia, menjelaskan bahwa ARSHA merupakan program komite sekolah yang melibatkan wali murid dan mendapat dukungan dari pihak sekolah.
Sasaran edukasi terutama siswa kelas VII dan VIII, di fase pertumbuhan dan memerlukan perhatian perkembangan fisiknya.
Jika pada tahun sebelumnya ARSHA mengangkat tema kebijaksanaan dalam bermedia sosial, tahun ini fokus kesehatan tulang belakang melalui kerja sama dengan organisasi profesi kedokteran dan institusi pendidikan kedokteran.
“Harapannya, kegiatan ini dapat memberikan wawasan kepada anak-anak kita. Kemudian, melalui deteksi dini skoliosis, kami juga ingin mengarahkan para wali murid tentang bagaimana cara penanganannya agar tidak terlambat,” kata Siska.
